Tampilkan postingan dengan label Visit Tour Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Visit Tour Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Juni 2010

Obyek Wisata Kuningan, Telaga Remis


Telaga remis merupakan salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Kuningan. Berupa telaga yang berada di areal pegunungan. Nama Telaga Remis sendiri diambil dari sejenis kerang berwarna kuning yang dulu banyak hidup di sekitar telaga tersebut. Di sekitar telaga remis terdapat 8 telaga yaitu : Telaga Leat, Telaga Nilem, Telaga Deleg, Situ Ayu Salintang, Telaga Leutik, Telaga Buruy, Telaga Tespong, dan Sumur Jalatunda. Selain tempatnya yang sejuk, karena berada di dataran tinggi dan dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan yang rindang, perahu motor dan sepeda air merupakan daya tarik bagi tempat ini. Tak jauh berbeda dengan objek-objek wisata lainnya, tentunya kuliner yang ada disekitar objek juga bisa menjadi salah satu tujuan melakukan wisata. Di telaga remis para pelancong dapat memesan ikan dengan menu di bakar dan/atau digoreng, uniknya kita dapat mengambil ikannya dari telaga sesuai selera kita. Sedangkan letak geografis dari telaga remis yaitu berada di desa Kaduela kecamatan Pasawahan, jarak ±37 km ke arah utara dari kota Kuningan dan ±13 km ke arah selatan dari kota Cirebon

nn

Rabu, 16 Juni 2010

Obyek Wisata Kuningan, Linggarjati


Perundingan Linggarjati atau kadang juga disebut Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang dilaksanakan pada tanggal 10-13 November 1946. Menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947.

Linggarjati, merupakan bagian yang sangat penting dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, sehingga sampai sekarang bisa menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Diantara isi pokok persetujuan Linggarjati adalah : (1) Belanda mengakui secara De Facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura; (2) Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia;(3) Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia – Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.


Peristiwa yang berlangsung 59 tahun silam tersebut, masih dapat kita saksikan melalui peninggalan-peninggalan yang ada di Gedung Linggarjati, sekaligus dijadikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya oleh Pemerintah sesuai dengan UU.No.5 tahun 1992. Desa Linggarjati sendiri berada di wilayah Blok Wage, Dusun Tiga, Kampung Cipaku, kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Desa ini terletak pada ketinggian 400 meter di atas permukaan air laut, dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sebelah selatan desa ini berbatasan dengan Desa Linggasana, sebelah timur berbatasan dengan Desa Linggamekar, sebelah utara berbatasan dengan Desa Lingga Indah dan sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai. Untuk mencapai lokasi ini tidaklah terlalu sulit, karena akses jalan aspal yang mulus, sehingga mudah sekali dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari arah Cirebon kurang lebih 25 km sedangkan dari arah Kuningan kurang lebih 17 km.

Hawa sejuk dan damai akan kita rasakan ketika mulai memasuki pelataran Gedung Linggarjati. Bangunan kuno dan megah yang dikelilingi oleh taman yang asri, dengan suasana yang tidak terlalu ramai, semakin menambah penghayatan suasana Linggarjati. Luas komplek Linggarjati kurang lebih 2,4 hektare, dimana sepertiga dari luas tersebut merupakan bangunan gedung yang dipergunakan untuk perundingan. Bangunan ini sendiri tadinya dibangun oleh warga negara Belanda, sebagai tempat peristirahatan, yang kemudian dipilih sebagai tempat perundingan dan akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Indonesia sebagai salah satu bangunan cagar budaya Pemerintah Indonesia. Walaupun berupa bangunan lama, tapi secara keseluruhan kebersihan gedung ini nampak terjaga sekali. Ada 14 orang yang membantu merawat gedung ini, diantaranya 7 orang merupakan PNS ( Pegawai Negeri Sipil ), dan sisanya adalah pegawai honorer

Bangunan ini terdiri dari beberapa ruang, yaitu ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi dan ruang belakang. Ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan meeting informal. ruang tengah merupakan ruang utama, dimana perjanjian Linggarjati dilaksanakan. Ternyata posisi kursi yang diduduki oleh para anggota perundingan masih sama seperti dulu waktu perundingan dilangsungkan. diantara para peserta perundingan tersebut adalah, delegasi Indonesia terdiri dari :

1.Sutan Sjahrir

2.Mr.Soesanto Tirtoprodjo

3.Dr.A.K.Gani

4.Mr.Muhammad Roem

delegasi Belanda terdiri dari

1.Prof.Ir. Schermerhorn

2.Mr.Van Poll

3.Dr.F.DeBoer

4.Dr.Van Mook

Dan sebagai notulensi adalah

1.Dr.J.Leimena

2.Dr.Soedarsono

3.Mr.Amir Sjarifuddin

3.Mr.Ali Budiardjo

Kamar-kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan merupakan tempat tidur yang dipergunakan oleh delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan.

Latar Sejarah

Sebelum menjadi Museum Perundingan Linggajati bangunan ini berupa gubuk milik Ibu Jasitem (1918), kemudian pada tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi rumah semi permanen, pada tahun 1930-1935 setelah dibeli keluarga Van Ost Dome (bangsa Belanda) dirombak menjadi rumah tinggal seperti sekarang, kemudian pada tahun 1935 -1946) dikontrak Heiker (bangsa Belanda) dijadikan Hotel yang bernama Rus “Toord”.

Keadaan ini berlanjut setelah Jepang menduduki Indonesia dan diteruskan setelah kemerdekaan Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang, hotel tersebut berubah namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 hotel ini diberi nama Hotel Merdeka. Jika diperhatikan, pembagian ruangan dalam Museum Perundingan Linggajati sekarang masih menyerupai pembagian ruangan untuk bangunan hotel.

Pada tahun 1946 di gedung ini berlangsung peristiwa bersejarah yaitu Perundingan antar Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Linggarjati sehingga gedung ini sering disebut Gedung Perundingan Linggajati. Sejak aksi militer tentara Belanda ke-2 1948-1950 gedung dijadikan markas Belanda, kemudian pada tahun 1950 – 1975 difungsikan menjadi Sekolah Dasar Negeri Linggajati, selanjutnya pada tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tetapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggajati yang selanjutnya pada tahun 1976 gedung ini oleh diserahkan Kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan Museum Memorial.

Jadwal Kunjung
Waktu jam kunjung museum
a. Senin –Jumat dari pukul 07.00 – 15.00
b. Sabtu – Minggu dari pukul 08.00 – 17.00

Fasilitas
Bangunan museum berdiri diatas areal seluas 2,4 ha, dengan luas bangunan 800 m2 yang terdiri dari: ruang sidang, ruang sekretaris, kamar tidur Lord Killearn (Inggris), ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, kamar tidur delegasi Belanda, kamar tidur delegasi Indonesia, ruang makan, kamar mandi/WC, ruang setrika, gudang, bangunan paviliun, dan bangunan garasi.

teamtouring

Selasa, 15 Juni 2010

Obyek Wisata Kuningan, Gunung Ciremai


Gunung Ciremei adalah gunung tertinggi di Jawa Barat ( 3.078 Mdpl ), dapat terlihat dengan jelas oleh para penumpang kereta api atau kendaraan umum lainnya sepanjang jalur pantura sekitar Cirebon. Untuk menuju puncak Ciremei terdapat 3 jalur yang dapat ditempuh yakni jalur Majalengka,jalur Palutungan dan,jalur Linggarjati. Jalur Linggarjati merupakan yang paling terjal dan terberat, namun jalur ini merupakan yang paling sering dilalui pendaki.

JALUR LINGGAJATI

Desa Linggajati 14 km dari kota Kuningan atau 24 km dari kota Cirebon. Dari Jakarta dapat ditempuh menggunakan bus jurusan Kuningan atau kereta api jurusan Cirebon yang disambung dengan bus atau kendaraan umum jurusan Cirebon - Kuningan.

Dari pertigaan Linggajati berjalan kaki sekitar 2,5 km menuju Musium Linggajati tempat bersejarah dimana Bung Karno pernah menandatangani perjanjian Linggarjati dengan Belanda. Terdapat pula Taman Linggajati Indah, Taman seluas 11 hektar ini dilengkapi berbagai sarana rekreasi, antara lain kolam renang dan sumber mata air Cibulakan, Silinggonom, Balong Renteng, Rekreasi air dan kolam pancing, Tempat istirahat, Cottage, Villa, Hutan wisata, Bumi perkemahan dll.

Pos penjagaan berjarak lebih kurang 500 m dari Musium Linggajati, kita perlu mendaftarkan diri serta membayar asuransi per orang Rp.3.000,- . Siapkan bekal Anda terutama air karena susah sekali memperoleh air selama di perjalanan.

Para pendaki dapat menggunakan jasa penduduk atau petugas penjaga pos untuk membimbing perjalanan mereka ke puncak. Jalur menuju puncak sangat jelas dan banyak tanda-tanda penunjuk jalan, sehingga pendaki yang baru pertama kalipun tidak akan tersesat.

Selepas dari Pos Pendaftaran dengan melintasi jalanan beraspal pendaki memasuki kawasan hutan Pinus dan persawahan hingga Cibeunar. Cibeunar merupakan area camp yang cukup kondusif buat bermalam. Area ini sangat ramai dengan para pendaki yang ingin mengadakan start pendakian, karena terdapat sumber air yang cukup melimpah, yang tidak akan ditemui lagi sepanjang perjalanan sampai di puncak. Selepas Cibeunar lintasan akan melewati perkebunan penduduk hingga memasuki Leuweng Datar.

Leuweng Datar terletak di tengah-tengah hutan tropis. Selepas daerah ini lintasan mulai menanjak dan melewati area yang cukup datar sebagai camp yakni Sigedang dan Kondang Amis . Untuk sampai di Kuburan Kuda diperlukan waktu 2 jam.

Kuburan Kuda merupakan tanah datar yang cukup luas dan cukup teduh sebagai tempat perkemahan. Daerah ini dianggap keramat bagi masyarakat setempat. Selepas Kuburan Kuda, pendaki akan melewati beberapa tempat keramat seperti Ceblokan, Pengalas. Kemudian sudut lintasan mulai membesar ketika melewati Tanjakan Bin-Bin dan semakin menanjak lagi ketika melewati Tanjakan Seruni. Lintasan ini adalah yang terberat dan melelahkan dibanding yang lainnya. Bahkan pendaki akan menemui jalan setapak yang terputus dan setengah memanjat, dan memaksanya berpegangan akar pepohonan untuk mencapai pos selanjutnya.

Selepas Tanjakan Bapatere lintasan tetap menanjak nyaris tanpa bonus sampai di Batu Lingga. Waktu yang diperlukan adalah 60-90 mennit.

Batu Lingga merupakan pos peristirahatan yang berupa tanah datar dan terdapat sebuah batu berukuran besar. Setelah kawasan ini, lintasan tetap menanjak. Di tengah perjalanan pendaki akan menemui dua pos peristirahatan berupa tanah datar yakni Kiara Baton dan Sangga Buana. Selepas itu pendaki akan memasuki batas vegetasi antara hutan dengan daerah terbuka. Untuk sampai di Pangasinan membutuhkan waktu selama 2-2,5 jam.

Pangasinan merupakan pos terakhir. Dari daerah yang cukup terbuka ini pendaki dapat menyaksikan bibir puncak yang cukup gagah berdiri di depan mata. Diperlukan waktu 45-60 menit dengan melewati bebatuan cadas dan medan yang tetap menanjak, bahkan harus setengah merayap, untuk sampai di puncak.

Kami bisa memandang melihat kota Cirebon dan laut Jawa, kapal-kapal besar nampak dikejauhan. Kearah Timur kami melihat ke Jawa Tengah, tampak gunung Slamet di Purwokerto dengan puncaknya yang tertutup awan. Puncak gunung Ciremei memiliki kawah yang sangat curam dan sangat indah, pendaki yang nekad sering turun ke kawah untuk membuat tulisan di atas lumpur kawah. Pejiarah sering datang untuk berdoa dipuncak gunung ini. Siang itu kabut mulai turun disertai gerimis, kami masih sempat mengambil foto di puncak.

Banyak sekali pendaki yang hanya berkemah di pertengahan pos dan tidak sanggup meneruskan perjalanan ke puncak, karena medan yang berat dan susahnya air, dan kembali turun, untuk itu persiapkan bekal yang berlebih dan bawalah tenda. Karena kemungkinan besar perjalanan akan tertunda, sehingga harus bermalam.

JALUR PALUTUNGAN

Palutungan merupakan sebuah kampung terakhir yang berada di lereng selatan Ciremai dan berada pada ketinggian 1100 mdpl. Dusun kecil ini masuk dalam pangkuan Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Dari Cirebon pendaki dapat menggunakan angkutan umum jenis colt elf jurusan Cikijing dan turun di pertigaan Cigugur. Perjalanan ini membutuhkan waktu selama 1 jam. Sepanjang perjalanan menuju Cigugur, pendaki akan melewati Kota Kuningan yang berada di ketinggian 466 mdpl. Setiba di pertigaan Cigugur, perjalanan dilanjutkan menuju Cisantana dengan menggunakan oplet tua. Perjalanan melalui jalanan yang menanjak dan berbatu ditempuh selama 1 jam, dengan melewati perkebunan penduduk yang sangat indah. Setiba di Cisantana, perjalanan dilanjutkan kembali dengan naik colt terbuka pengangkut sayur menuju Palutungan yang memakan waktu 20 menit.

Setelah mengurus perizinan pendakian, perjalanan dapat dimulai melalui perkebunan penduduk. Setelah itu, belok ke kanan memasuki hutan hujan tropis dengan jalur cenderung landai. Sesekali pendaki harus menyusup melalui semak-semak tinggi. Untuk sampai di Cigowong membutuhkan waktu 90-120 menit.

Pos I Cigowong terletak di ketinggian 1450 mdpl. Di sini terdapat sumber air yang mengalir membentuk sebuah sungai. Dari sini pendaki dapat menyiapkan persediaan air sebanyak mungkin karena tidak akan ditemui lagi sumber air hingga puncak. Selepas Cigowong lintasan masih landai selama 90-120 menit, sampai di Paguyangan Badak.

Paguyangan Badak merupakan area yang berada di ketinggian 1800 mdpl. Daerah yang terdapat puing-puing bangunan tua ini sering digunakan sebagai tempat bermalam survivor yang dievakuasi karena meninggal di gunung ini. Untuk sampai di Blok Arban membutuhkan waktu 30 menit, dengan lintasan yang mulai menanjak.

Blok Arban merupakan pos III dengan area yang cukup datar dan teduh. Lintasan mulai menanjak dan melelahkan selama 90-120 menit sampai di Tanjakan Asoy. Tanjakan Asoy merupakan pos IV. Tanjakan ini berupa tanah datar berukuran cukup luas. Selepas daerah ini lintasan semakin menanjak selama 60 menit sampai di pos berikutnya.

Selepas pos V (pasangrahan) pendaki mulai memasuki Vegetasi Cantigi dan Adelweiss sampai di Sang Hyang Ropoh. Lintasan ini sangat licin jika hujan turun dan diperlukan waktu 30 menit untuk sampai pada pos berikutnya.

Pos VI (Sang Hyang Ropoh) terletak di daerah yang datar dan terbuka. Selepas pos ini lintasan tetap menanjak dan licin, dengan tanah berwama kuning bekas aliran lava belerang. Pada sisi kanan lintasan terdapat goa yang biasa digunakan sebagai tempat berlindung ataupun bermalam. Di tengah perjalan ini, tepatnya pada sisi kiri, lintasan akan menyatu dengan jalur barat dari Majalengka. Untuk sampai di puncak Ciremai diperlukan waktu 2 jam pendakian. Sesampai di puncak pendaki dapat menikmati megahnya dua kawah kembar yang berdampingan. Untuk mengitari kawah ini diperlukan waktu kira-kira 3 jam. Selain itu, pendaki juga dapat menyaksikan indahnya daerah Majalengka, Cirebon, Laut Jawa, serta Gunung Slamet yang menjulang gagah di sisi timur. Sungguh Menawan!

Dudy Awaluddin

Obyek Wisata Kuningan, Cibulan


MEMASUKI kawasan Taman Wisata Cibulan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (Jabar), orang akan disambut dengan suasana damai khas kawasan pedesaan. Tempat yang teduh di bawah naungan pepohonan rindang dan udara yang sejuk, membuat siapa pun yang berkunjung merasa tenteram dan damai.

Angin berhembus semilir, membawa gemerisik suara daun-daun yang bergesekan dari gerumbul pepohonan lebat di sisi taman. Suara itu, dan suara kecipak air di dua kolam besar berbentuk persegi panjang seolah-olah menjadi satu-satunya suara yang terdengar di tempat itu.

Pemandangannya pun tidak kalah ajaib. Sesekali, guguran daun-daun yang sudah menguning tertiup angin dan bertaburan di permukaan air kolam yang berwarna hijau, memantulkan bayangan pepohonan. Dan di bawah permukaan air yang bening, puluhan ikan berwarna abu-abu kehitaman berenang ke sana ke mari. Itulah ikan kancra bodas (Cyprinus carpio), yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat dengan sebutan Ikan Dewa.

Semua pemandangan itu semakin membuat diri bagaikan menemukan pembebasan. Terutama bagi mereka yang setiap harinya dicekoki dengan kebisingan dan rutinitas kota.

Tentu saja, segala suasana dan pemandangan itu hanya bisa didapatkan pada saat Cibulan sepi pengunjung, yaitu pada hari-hari kerja, yang-sayangnya-sangat kecil kemungkinannya dapat dinikmati orang kebanyakan, kecuali mereka mengambil cuti. Karena pada hari-hari libur, terutama saat hari raya Lebaran, pengunjung bisa membludak hingga 3.000 orang per hari, berjubel di taman yang hanya berukuran luas sekitar dua hektar.

OBYEK wisata Cibulan terletak di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jabar, sekitar 28 kilometer sebelah selatan Kota Cirebon atau 7 kilometer di utara Kota Kabupaten Kuningan. Lokasi kolam-kolam Cibulan terletak 300 meter masuk ke barat dari Jalan Raya Cirebon-Kuningan.

Jalan masuknya yang lebar sudah diaspal. Meski masih kasar, sudah cukup nyaman untuk dilewati kendaraan bermotor. Angkutan umum menuju salah satu tujuan wisata andalan di Kabupaten Kuningan tersebut juga sangat mudah didapatkan. Dari Cirebon, pengunjung dapat menumpang mobil angkutan umum jenis Elf, dengan tarif hanya berkisar Rp 2.000-Rp 2.500 per orang.

Cibulan merupakan salah satu obyek wisata tertua di Kuningan. Tempat tersebut diresmikan sebagai tempat rekreasi pertama kali pada hari Minggu, 27 Agustus 1939, oleh Bupati Kuningan waktu itu, RAA Mohamad Achmad.

Di dalamnya terdapat dua kolam besar berbentuk persegi panjang. Kolam pertama berukuran panjang 35 meter dan lebar 15 meter dengan kedalaman air sekitar 2 meter. Kolam kedua berukuran 45 x 15 meter persegi yang dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama dengan kedalaman air 60 sentimeter dan bagian kedua dengan kedalaman air sekitar 120 sentimeter

Meski semuanya itu dihuni puluhan ikan-ikan kancra bodas berbagai ukuran, mulai dari yang sepanjang 20-an sentimeter hingga hampir 1 meter, kolam-kolam di Cibulan dibuka sebagai kolam pemandian umum. Tempat rekreasi itu dilengkapi dengan fasilitas khas tempat pemandian, seperti tempat ganti pakaian, tempat bilas, dan kamar mandi/WC. "Kami menyediakan 30 kamar ganti, 6 kamar kecil, dan 2 kamar mandi untuk tempat bilas seusai berenang di kolam," kata Pimpinan Pengelola Obyek Wisata Cibulan, Sulaeman NS Slamet

Cibulan merupakan salah satu dari empat tempat rekreasi sejenis di Kuningan. Tiga tempat lainnya adalah Kolam Linggarjati di kompleks Taman Linggarjati Indah, Kecamatan Cilimus; Kolam Cigugur, di Kecamatan Cigugur; dan Kolam Darma Loka di Kecamatan Darma. Semuanya memiliki kolam-kolam yang dihuni ikan keramat kancra bodas, tetapi hanya Cibulan yang dimanfaatkan sebagai kolam renang umum.

Keistimewaan lain yang dimiliki Cibulan adalah keberadaan tujuh mata air yang dikeramatkan bernama Keramat Sumur Tujuh di sudut barat obyek wisata tersebut. Tujuh mata air berbentuk kolam-kolam kecil itu bernama Sumur Kejayaan, Sumur Kemulyaan, Sumur Pangabulan, Sumur Cirancana, Sumur Cisadane, Sumur Kemudahan, dan Sumur Keselamatan.

Tujuh mata air itu terletak mengelilingi sebuah petilasan keramat Prabu Siliwangi berupa
susunan batu seperti batu menhir dan dua patung harimau loreng, lambang kebesaran Raja Agung Pajajaran tersebut. Menurut Warga, petilasan tersebut sering dikunjungi orang, terutama pada malam Jumat Kliwon atau selama bulan Maulud dalam penanggalan Hijriah. Mereka berziarah dan memohon keberhasilan dalam hidupnya. "Bagi yang percaya, air di tujuh sumur keramat itu membawa berkah dan dapat mengabulkan permohonan mereka. Beberapa pejabat tinggi negara sering datang ke tempat ini," tuturnya

Tujuh sumur keramat tersebut tetap mengeluarkan air yang bersih, bening, dan sejuk, meskipun pada musim kemarau panjang seperti tahun ini. Sulaeman mengatakan, air di Cibulan selalu melimpah, baik pada musim hujan maupun kemarau. Itulah sebabnya, selain sebagai tempat rekreasi, Cibulan juga dijadikan sebagai sumber air untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kuningan dan dimanfaatkan Pertamina untuk memasok kebutuhan air bersih di dua kompleks miliknya, yaitu Padang Golf Ciperna di Kota Cirebon, dan Kantor Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat (DOH JBB) di Klayan, Kabupaten Cirebon.

CIBULAN sepenuhnya dikelola oleh Pemerintah Desa Manis Kidul. Menurut Sekretaris Desa Manis Kidul Engkus Kusnadi, pendapatan kotor dari Obyek Wisata Cibulan tiap minggunya rata-rata mencapai Rp 1,5 juta. Uang sebesar itu didapat dari penjualan tiket masuk seharga Rp 2.000 untuk orang dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak.
Jumlah tersebut bisa mencapai Rp 50 juta per minggu pada masa puncak kunjungan pelancong, yaitu selama Lebaran. "Selama Lebaran, harga tiket kami naikkan menjadi Rp 3.000 untuk orang dewasa dan Rp 1.500 untuk anak-anak," papar Engkus.
Lonjakan pendapatan itu dimungkinkan, karena pada masa Lebaran jumlah pengunjung Cibulan bisa naik puluhan kali lipat dibanding hari-hari biasa. "Hari-hari biasa pengunjung tempat ini berkisar 50-100 orang per hari, tetapi pada saat Lebaran bisa mencapai 3.000 per hari," tutur Sulaeman.

Kolam Cibulan juga menjadi sumber pendapatan bagi penduduk Desa Manis Kidul dengan menjadi pedagang asongan atau membuka warung makan di sekitar tempat itu. Menurut Sulaeman, saat ini terdaftar 20 warung permanen di luar kompleks kolam dan 14 pedagang asongan resmi yang diizinkan berjualan di dalam kompleks kolam. Mereka kebanyakan menjual minuman ringan dan makanan kecil serta makanan ikan berupa kacang atom.

Terlepas dari manfaat yang sudah dapat dipetik oleh masyarakat setempat, kolam Cibulan masih menyimpan potensi sangat besar untuk dikembangkan menjadi obyek wisata yang benar-benar representatif dan layak dijual. Selama ini, pengelolaan Cibulan terkesan asal-asalan tanpa ada pengembangan berarti.

Hal tersebut diakui, baik oleh Sulaeman maupun Engkus. Menurut Engkus, luas total lahan yang termasuk dalam kawasan wisata Cibulan mencapai 5 hektar lebih. Namun, sejak puluhan tahun lalu hingga saat ini, yang dimanfaatkan untuk obyek wisata baru sekitar 2 hektar.

Sulaeman mengatakan, saat ini pihaknya sedang mencoba mengubah sebidang empang di sudut barat daya taman rekreasi Cibulan menjadi kolam yang akan diisi sarana permainan anak seperti sepeda air. Engkus menambahkan, selain sepeda air, juga direncanakan untuk membuat kolam renang standar nasional, akuarium raksasa, dan kolam pemancingan ikan

"Tetapi, semua itu terbentur kendala kurangnya dana. Maklum, kami masih menerapkan sistem manajemen tradisional. Kami masih menunggu investor untuk ikut mengembangkan Cibulan," ucap Engkus. (Dahono Fitrianto) (http://www.kompas.com)